Selamat Datang di " SMA Negeri 1 Serui = Sekolah Literasi "

  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen didampingi Pengawas SMA/SMK pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kajari Kabupaten Kepulauan Yapen dan Perwakilan Kepolisian Resort Kabupaten Kepulauan Yapen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para undangan orang tua pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen menyerahkan hadiah kepada juara lomba puisi dan cerpen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Bendahara (Salmawaty) dan Penanggung Jawab Program Gerakan Literasi Sekolah (Fitri H K Devi) pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui

BISA PINTAR JIKA INGIN TAHU

Aku, murid terbodoh di kelasku. Aku juga bukan siapa-siapa di sekolah, bukan dari keluarga kaya dan keluarga terpandang. Aku selalu masa bodoh dengan pelajaran di sekolah, aku hanya suka bermain dengan teman-temanku. Bahkan tentang informasi pun aku dan temanku tidak mengerti apa-apa, bisa dikatakan kami anak yang bodoh dan tidak pernah diharapkan di sekolah ini. Kami tidak mengerti internet tetapi selalu OL untuk Facebook. Sekolahku baru saja mendapat predikat sekolah literasi. Yah sekolah literasi adalah sekolah dimana siswa dapat menangkap informasi dengan cepat dan begitu familiar dengan internet. Tapi apalah daya untuk anak- anak seperti kami ini. Kami hanya bisa menunggu lonceng istirahat agar kami terbebas dari tugas apalgi yang berkaitan dengan internet. Syukurlah walau kami bodoh, kami masih bisa menghormati guru yang sedang mengajar. Jadi nilai kami bisa sedikit di bantu oleh nilai sikap kami di kelas.

Pada suatu hari, ada seorang guru mengajar, pembelajarannya selalu melewati Internet, dan mereka yang pintar itu egois, tidak mau berbagi kepada kami yang tidak tau apa-apa ini. Aku dan teman-temanku hanya bisa diam, tapi aku fikir apa yang aku dapatkan? Aku benci dengan anak-anak egois itu, selalu mementingkan kelompok mereka dan tidak berbagi kepada kelompok kami. Dan pada akhirnya aku angkat bicara “ pakguru, ini gimana sih? Dari tadi kok gag bisa-bisa?” Pakguru menjawab “ kamu tanya teman-teman kamu ini yah. Dengan berat hati aku medatangi mereka, boleh tanya gag? Ini caraya gimana ya untuk masuk ke pembelajaran? Mereka hanya sibuk sendiri dan mengabaikanku. Aku pun kembali ke tempat dudukku.Tapi aku kasian sama temen-temenku, mereka hanya seperti orang bodoh. Sampe aku mempunyai keinginan untuk membantu teman-temanku. Pokoknya aku gag boleh kalah dari mereka, aku harus jadi anak yang jenius juga biar gag diabaikan sama guru-guru. Aku berfikir “kan SMA 1 ini sekolah literasi, pasti fasilitas untuk akses informasi lewat internet kan banyak”,!

Dari situ, aku mulai mengurangi masa bodohku, dan selalu mencari informasi tentang pelajaran-pelajaran yang diberikan guru, perlahan-lahan ku belajar, dan perlahan-lahan juga aku mulai mengerti ! Sampai suatu saat ketika sedikit demi sedikit setiap pertanyaan yang di lontarkan guru kepadaku, bisa ku kerjakan di depan kelas, teman-temanku pun ada yang datang dan bertanya kepadaku. Dan teman-temanku yang tidak tau apa-apa pun aku ajari dengan perlahan. Tak sampai disitu, aku mengikuti les, dan selalu datang kerumah guru jika ada soal yang belum aku mengerti. Kemampuan otakku pun mulai sedikit terisi dan terisi. Semua tugas bisa ku kerjakan dengan baik dan benar. Aku tidak tau apakah kemampuanku ini sudah cukup menandingi anak-anak pintar itu.

Sehingga pada suatu saat ada lomba cerdas cermat dalam memperingati sumpah pemuda. Aku tak percaya ingin mengikuti lomba tersebut dengan kemampuan yang aku miliki, walaupun aku merasa sudah ada sedikit perubahan dari gaya pandangku. Dan yang mengikutinya pun pasti siswa dan siswi yang pintar-pintar dan berprestasi. Tapi aku ingin membuktikan bahwa aku bisa. Aku pun memasukkan formulir ke panitia dan mengikuti lomba itu. Aku belajar dengan sungguh-sungguh, dan setiap hari, aku menyibukkan diri dengan cara mencari tau informasi yang ada lewat internet. Dan tibalah hari sumpah pemuda itu, rasanya aku ingin mengundurkan diri karna melihat anak-anak yang berkaca mata, dan memegang buku tebalnya itu. Tapi teman-temanku sudah terlanjur percaya padaku, dan selalu memberiku semangat. Bagaimanapun aku tak boleh mengecewakan mereka.

Dengan kemampuan yang aku miliki ini, dengan usaha yang sudah aku lakukan ini, demi orang-orang terdekatku, aku tak akan mengecewakan mereka. Sambil memohon kepada Tuhan yang Maha Esa, agar semua kesulitanku bisa dipermudah, aku menjawab sebisaku dan aku usahakan semaksimal mungkin untuk menjadi yang terbaik. Setelah usai perlombaan itu, kami hanya bisa menunggu hasil terbaik. Aku sangat mengharapkan juara itu, tetapi di salah satu sisi, aku merasa tidak pantas mendapatkan itu semua. Tapi apalah daya, aku sudah berusaha. Dan ketika panitia membackan pemenangnya, aku hanya duduk terdiam dan focus mendengarkannya. Panitia berkata, “Dan pemenangnya adalah….”!! Ketika dia menyebut namaku, aku lalu berteriak bahagia dan memeluk teman-temanku. Aku disuruh maju, untuk mengambil hadiah itu, dan bangganya lagi, ternyata aku menyandang status “SISWA TERBAIK YANG MEMBUAT BANGGA SEKOLAH DENGAN ADANYA PREDIKAT SEKOLAH LITERASI”. Betapa bangganya aku, aku pun tidak menyangka bisa jadi seperti ini. Teman-teman sekelasku pun memberikan ucapan selamat padaku, dan aku bangga bisa mengalahkan anak-anak pintar di kelasku yang egois itu, dan membuktikan kepada guru-guru bahwa yang sebelumnya tidak layak dipandang akan menjadi seseorang yang berprestasi. Aku bangga sekali karna baru-baru saja sekolah ini menyandang status sekolah literasi dan aku menyandang status sebagai siswa terbaik di dalamnya.

Oleh : FITRI RAHMAWATI

Kelas : XI MIA 4