Selamat Datang di " SMA Negeri 1 Serui = Sekolah Literasi "

  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen didampingi Pengawas SMA/SMK pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kajari Kabupaten Kepulauan Yapen dan Perwakilan Kepolisian Resort Kabupaten Kepulauan Yapen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para undangan orang tua pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen menyerahkan hadiah kepada juara lomba puisi dan cerpen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Bendahara (Salmawaty) dan Penanggung Jawab Program Gerakan Literasi Sekolah (Fitri H K Devi) pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui

Catatan Tangan Daniel Dari Sekolah Literasi SMA Negeri 1 Serui

“Kriinggg!!! Kriinggg!!!!!!”. Alarm menunjukan pukul 06.30 WIT.

“aaahhhh!!!!” Jerit Daniel sesaat setelah alarm hpnya berbunyi.

“Astaga, terlambat lagi !” keluhnya kemudian. Ia pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.

“Daniel ! kamu itu ya, terlambat terus !” omel mamanya saat Daniel baru saja keluar dari kamar mandi. Daniel hanya tertawa kecil lalu masuk ke kamarnya dengan tergesa-gesa. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya itu.

Daniel tinggal hanya berdua dengan Ibunya, Ia adalah anak tunggal, Ayah dan Ibunya bercerai sejak Ia berumur 5 tahun. Itulah sebabnya Ibunya sangat menyayangi Daniel. Ibunya jarang memarahi Daniel bahkan saat berbuat kesalahan.

Ia melihat jam di tangannya waktu menunjukkan pukul 07.20 WIT. Beruntung saat Daniel baru saja tiba di sekolah, pintu pagar masih terbuka. “Alhamdulilah, pagarnya masih terbuka.” Gumamnya tersenyum sambil menatap tulisan SMA Negeri 1 Serui yang tertulis ditembok depan gerbang utama. Tetapi sayangnya meski pintu pagar masih terbuka, ternyata guru sudah masuk dan mulai mengajar. “Ampun deh.. Gurunya sudah masuk !” keluhnya dalam hati.

Tok Tok Tok “Sse- se- Selamat pa-pagi pak, saya bo-boleh ma-masuk?” Tanya Daniel gugup.

Guru yang sedang mengajar terdiam menatap Daniel yang terlambat masuk kelas.

“Masuklah..” kata guru itu kemudian. Daniel bernapas lega. Hari ini hari keberuntungannya. Baru saja menaruh tasnya dan bersiap untuk duduk di bangkunya, Ia mendengar beberapa temannya membicarakannya. “Daniel itu sudah bodoh, terlambat terus kerjaannya.” Kata Rama salah satu teman kelasnya. “Iya, dia itu apa tidak malu ya?” sambung fitri teman sekelas Daniel lainnya. Mendengar percakapan teman sekelasnya yang menghinanya, Ia hanya terdiam. Ia sadar, Ia memang seperti yang mereka bicarakan. Meskipun mereka baru bersama-sama 2 bulan sejak penerimaan siswa baru.

Berjalannya waktu, teman-teman Daniel mulai mengucilkannya. Karena Daniel yang tidak pandai dan menurut teman-temannya, Daniel adalah anak yang pemalas. Padahal pada kenyataanya Ia malas, karena sama sekali tidak mengerti apa yang diajarkan oleh guru kepadanya. Ia malu bertanya pada guru dan juga Ia malu untuk bertanya pada teman-temannya. Jadi, Ia tidak melakukan apapun, tidak mengerjakan tugas, tidak pernah belajar, tidak pernah melakukan hal-hal yang suruh oleh guru, hanya sibuk dengan satu hal yaitu membaca novel. Ibunya selalu menyuruhnya belajar dan mengurangi waktunya untuk membaca novel, Daniel selalu mengiyakan apa yang Ibunya suruh tetapi tidak pernah dilakukan. Hingga Daniel benar-benar di cap sebagai anak yang bodoh dan pemalas. Meski Ia di cap pemalas dan bodoh, Ia tidak pernah sekalipun melakukan hal-hal terlarang seperti merokok, bolos dan lain-lain.

Tidak terasa 1 semester terlewati, waktunya untuk para orang tua menerima hasil belajar siswa selama 1 semester. Ketika siswa lain menghawatirkan nilai-nilainya apakah akan bagus atau jelek, Daniel hanya duduk di teras kelas, seperti biasa tampang yang santai sambil membaca novel. Tidak menghawatirkan apapun.

Para orang tua mulai mendatangi kelas-kelas anaknya, Ibu Daniel terlihat mulai memasuki pintu gerbang sekolah. Daniel melihat Ibunya dari kejauhan, lalu berjalan mendekati Ibunya.

“Ibu, datang naik apa kesini tadi?” Tanya Daniel. “Ibu tadi naik ojek nak, mana ruang kelas kamu?” Tanya Ibu Daniel sambil melihat sekeliling mereka. “disebelah sana bu..”jawab Daniel sambil menunjuk sebuah kelas yang sedang dikerumuni beberapa orang tua. Mereka pun berjalan ke arah kelas itu.

Beberapa menit berlalu, para orang tua terlihat maju satu persatu mengambil rapot anak mereka, tidak terlalu lama durasi saat Ibu Sara wali kelas Daniel memberi arahan satu persatu pada para orang tua tentang anak mereka. Namun ketika nama Rahmat Rezky Daniel atau nama Daniel disebut percakapan antara Ibu Sara dengan Ibu Daniel terlihat lama. “ehh Daniel, sini ! mamamu kok lama ya bicara sama Ibu Sara?” panggil salah satu teman Daniel. “masa sih?” kata Daniel sambil menuju pintu kelasnya. Ia melihat percakapan antara Ibu dan Wali kelasnya terlihat serius. Perasaan Daniel tidak enak melihat hal tersebut. Tidak berapa lama kemudian Ibunya pun keluar dari ruang kelas itu. Dengan wajah yang terlihat kecewa, Ibu Daniel pulang meninggalkan Daniel tanpa berkata sepatah katapun. Ia mengejar Ibunya, lalu bertanya “Ibu, Daniel ikut Ibu pulang”. Ibunya hanya mengangguk tanpa berkata apapun.

Karena penasaran dengan apa yang Ibunya bicarakan dengan wali kelasnya tadi, Ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada Ibunya. “Ibu, tadi Ibu ngomong apa aja sama Ibu Sara?”. Ibunya terdiam tidak menjawab pertanyaan Daniel. Lalu masuk ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Daniel semakin bingung dan benar-benar penasaran.

Malam pun tiba. Saat makan malam, Daniel masih saja penasaran tentang yang terjadi tadi. Jadi, Ia sekali lagi memberanikan diri untuk bertanya pada Ibunya. “Ibu, tadi…”, belum sempat Ia melanjutkan pertanyaannya seakan sudah mengerti maksud dari pertanyaan anaknya, Ibunya memotong pembicaraan anaknya lalu berkata “Daniel, Ibu sangat kecewa sama kamu nak. Kamu kebanggan Ibu, anak satu-satunya Ibu.”. Daniel masih tidak mengerti apa yang sedang Ibunya bicarakan. “nak, kata Ibu Sara tadi nilai kamu semua jelek. Hanya pelajara bahasa indonesia saja nilai kamu yang bagus. Jujur saja nak, Ibu sedih mendengar hal itu.” Lanjut Ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Malam itu, Daniel sedih. Sedih karena telah membuat Ibunya kecewa. Ibu yang sangat menyayanginya menangis karena ulahnya. Kemudian Ia pun bertekad, Ia akan berubah. Ia ingin merubah semua kebiasaan buruknya.

Daniel menghabiskan hari liburnya untuk membaca buku-buku pelajaran yang Ia cari menggunakan internet di warnet, karena hari libur jadi Ia tidak bisa menggunakan fasilitas internet sekolah atau PSB di SMA N 1 Serui. Tetapi saat mulai masuk sekolah, Ia menggunakan fasilitas itu dengan baik. Beruntung PSB buka setiap sore jadi Ia bisa selalu pergi untuk belajar atau untuk mengerjakan tugas. Karena SMA Negeri 1 Serui sudah menyandang predikat sebagai sekolah literasi, jadi banyak dari tugasnya yang harus dikerjakan menggunakan internet. Setiap jam istirahat juga Ia selalu pergi ke perpustakaan dan membaca buku-buku disana. Ia sangat bersemangat belajar. Nilai-nilainya pun mulai membaik. Meskipun begitu, guru bahkan teman-temannya masih saja menilainya sebagai anak yang malas dan bodoh. Ia masih terkucilkan meski Ia sudah mencoba menjadi lebih baik.

Suatu ketika, Ia sedang mengerjakan tugas TIK tentang cara membuat blog. Awalnya Ia hanya mengerjakan tugas itu seperti mengerjakan tugas biasa. Namun tiba-tiba Ia berpikir, mungkin jika Ia memiliki blog sendiri dan memposting karya-karyanya itu akan menjadi hal yang seru. Terlebih karena SMA N 1 Serui adalah sekolah literasi jadi bukankah akan lebih baik jika Ia memiliki blog sendiri? katanya dalam hati. Lalu Ia tersenyum dan melanjutkan mengerjakan tugasnya. Ia berpikir untuk membuat blog esok hari, karena waktu menggunakan PSB sekolah sudah hampir habis.

Keesokkan harinya Ia kembali ke sekolah dan mengerjakan rencananya yang kemarin sempat tertunda, yaitu membuat blog. Awalnya Ia sedikit kesulitan membuat blognya sendiri, namun Ia terus mencoba dan mencoba. “Yesss!!!! Jadi!!!!” serunya ketika blognya berhasil Ia buat. “hm apa ya, yang akan ku isi di blog ini?” gumamnya. “ah besoklah baru aku isi blog ini, sudah jam setengah 6. Aku harus pulang.” Lanjutya. Lalu Ia tersenyum sambil menatap layar komputer bertuliskan nama Blognya “Catatan Tangan Daniel”

Setelah belajar dan mengerjakan tugas-tugasnya, Daniel sempatkan untuk mengetik karya sastra yang Ia buat sendiri. Karena Daniel suka sekali membaca novel, bukan hal yang sulit untuknya membuat cerpen, ataupun puisi. Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 2 jam. Ia telah menyelesaikan 4 puisi dan 2 cerpen. Ia tersenyum senang karena akhirnya Ia bisa menuangkan karya-karyanya disebuah tepat dimana semua orang bisa membacanya. Keesokkan harinya Ia pun mengirimkan karya-karyanya. Ia rutin mengirimkan karyanya di blognya setiap 2 kali seminggu. Ia mengisi blognya dengan tugas-tugas makala, kliping ataupun karya seperti cerpen atau puisi. Ia juga mengutip kata-kata dari novel-novel yang Ia baca. Ia membuat blognya dengan sangat baik, hingga viewers blognya telah lebih dari 3000 orang. Tetapi Daniel tidak menyadari hal tersebut.

Satu semester berlalu, ulangan kenaikan kelaspun tiba. Saat istirahat, Daniel terlihat duduk membaca novel seperti biasa. Samar-samar Ia mendengar teman sekelasnya membicarakannya. “Eh, lihat tu si Daniel. Baca novel saja kerjaannya, bukannya belajar? Kan sebentar ulangan Kimia.” Kata teman Daniel berbisik. Mendengar hal itu, Daniel lagi-lagi hanya diam. Ia tidak melakukan apapun dan terus asik membaca novel. Berselang beberapa menit tiba-tiba salah satu kakak kelas menepuk punggung Daniel. Daniel terkejut, lantas tersadar bahwa yang menepuknya adalah Ketua Osis di SMA Negeri 1 Serui. “Kamu Daniel ya, wah.. blog kamu keren loh!” puji Ketua Osis, “teman-teman seangkatan aku banyak terbantu karena blog kamu, apalagi tentang cerpen dan puisinya. Keren banget tau!” lanjutnya. “hehe makasih kak, tapi saya masih harus banyak belajar.” Jawab Daniel sambil tertawa kecil. “ah pokoknya kamu keren deh, sekali-kali postingin tentang sekolah literasi kita dong, SMA N 1 Serui. Jangan lupa Ketua Osisnya juga tentunya, hehehe” kata Ketua Osis bercanda. “Ia kak nanti aku buatin” Jawab Daniel mengiyakan.

Setelah Ketua Osis pergi meninggalkan Daniel tidak berapa lama, Daniel dikerumuni beberapa teman seangkatannya yang berbeda kelas. “loh, ada apa ini?” Tanya Daniel ke arah teman-teman seangkatannya.

“Ajari kami cara membuat blog keren seperti yang kamu buat dong..” pinta salah satu temannya. “Iya, kami juga mau keren bisa bikin blog.” Lanjut teman yang lain. Mereka terus bertanya tentang blog yang dibuat oleh Daniel. Daniel menjawab pertanyaan mereka dengan bahagia. Untuk pertama kalinya Daniel merasa diperhatikan. Teman-teman kelas Daniel yang membicarakannya tadi melihat dengan tatapan iri dan tidak suka akan kejadian saat itu.

Meskipun Daniel masih saja dicap jelek oleh beberapa guru dan teman kelasnya, Ia tidak menghiraukan hal tersebut. Daniel lebih banyak menyibukkan dirinya dengan menyendiri dan belajar sendiri, ketika Ia kesulitan memahami sebuah materi dari pelajaran yang diberikan, sesegera mungkin Ia cari materi lebih di PSB sekolah atau Hpnya menggunakan internet. Sesekali Ia bertanya pada guru bidang studi di sekolah. Ibu Sara yang melihat kegigihan Daniel tersenyum senang, Ia sering melihat Daniel keluar masuk PSB dengan tugas-tugasnya. Meski tidak semua guru mengakuinya, ada beberapa guru mata pelajaran lainnya yang mengakui bahwa Daniel sudah sering mengerjakan tugasnya.

Penerimaan rapot semester 2 pun tiba. Hari ini sikap Daniel berbeda dari sebelumnya, wataknya yang santai dan tenang hari ini berubah menjadi sedikit cemas. Tangannya berkeringat, gugup menunggu hasil kerja kerasnya selama 1 semester ini. Ia takut Ibunya akan kecewa lagi jika nilainya jelek lagi bahkan sampai Ia berpikir bagaimana jika Ia tidak naik kelas. Ibunya pasti akan sangat sedih. Ia melihat satu persatu orang tua siswa yang maju untuk mendengar arahan wali kelas dan menerima hasil belajar anaknya. Percakapan orang tua dan wali kelas tidak lama.

Nama Daniel disebut, Daniel memperhatikan ekspresi Ibunya tanpa berkedip sedikitpun. Percakapan mereka lumayan lama, Daniel mulai berperasaan tidak enak karena melihat ekspresi Ibunya yang terlihat kaget.

“mamamu kok lama ya Dan?” Tanya seorang teman kelasnya. “jangan-jangan kamu gak naik kelas ?” lanjutnya. Daniel melihat teman sekelasnya itu dengan tatapan bertanya. “apa iya saya gak naik kelas?” gumam Daniel yang saat ini mulai memucat karena panik. Sesaat kemudian Ibu Daniel berdiri dari kursinya lalu menuju keluar pintu, Ibunya berjalan ke arah Daniel.

Daniel menatap Ibunya dengan rasa cemas, tetapi yang terjadi justru diluar dugaan Daniel. Ibunya memeluknya dan menangis terharu. “kamu naik kelas nak, dan kamu tau? Kamu masuk tiga besar di kelas kamu.” Kata Ibunya dengan mata berkaca-kaca sambil memegang bahu Daniel. “Ibu gak bohong kan? Daniel beneran masuk tiga besar?” Tanya Daniel tidak percaya. Ibu Daniel mengangguk, Daniel lompat-lompat kegirangan. Teman-teman sekelas Daniel yang melihat tingkah Daniel tampak kecewa, karena nilai mereka yang lebih rendah dari nilai Daniel.

Ibu dan anak itu berjalan menyusuri koridor sekolah dengan wajah bahagia. Baru saja mereka akan keluar dari pagar utama di SMA N 1 Serui, tiba-tiba ada panggilan dari ruang wakasek melalui pengeras suara. “panggilan kepada Rahmat Rezky Daniel agar segera menju ruang wakasek sekarang.” Suara pada pengeras suara itu terulang dua kali. Ibu dan anak itu saling menatap dengan tatapan tanya, kemudian berjalan menuju ruang wakasek.

Terlihat Pak Anwar yang tadi memanggilnya di pengeras suara duduk di kursi ditemani seseorang yang tidak Ia kenal. Orang itu mengenakan pakaian kemeja rapi dan dipadukan dengan celana kain. Terlihat seperti orang penting pikir Daniel. “Bu’..” sapa Pak Anwar kepada Ibu Daniel. Ibunya hanya tersenyum membalas sapaan Pak Anwar. “Daniel, sini. Ada yang ingin bertemu denganmu.” Lanjut Pak Anwar. Daniel duduk disebelah Ibunya tepat didepan orang itu.

“Kamu Rahmat Reky Daniel? Pemilik blog Catatan Tangan Daniel?” tanya orang itu sambil tersenyum. Daniel mengangguk. “Jadi begini, saya utusan dari Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kepulauan Yapen ingin mendaftarkan kamu di lomba menulis karya sastra antar kabupaten di Papua. Karena menurut saya, isi blog kamu itu sangat bagus. Kamu kan yang mengisi isi blog itu?” lanjut orang itu. Daniel yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang berpakaian rapi itu menatap orang itu tanpa menjawab pertanyaannya. “Daniel?” panggil orang berpakaian rapi itu. “i-iya.. sa-saya yang mengisi blog itu.” Jawab Daniel dengan gagap. “hahaha.. baiklah kalau begitu kamu maukan saya daftarkan sebagai peserta mewakili Kabupaten Kepulauan Yapen dan juga tentu saja mewakili sekolah kamu SMA Negeri 1 Serui?” tanya orang itu. Daniel tersenyum lalu mengangguk dengan semangat. Kemudian menatap Ibunya yang terlihat tersenyum bahagia.

Berita tentang keberhasilan Daniel menyebar dalam sekejab di lingkungan sekolah, bahkan sudah menyebar ke sekolah-sekolah di Kabupaten Kepulauan Yapen. Sejak saat itu, teman-teman sekelasnya yang menghina dan mengejeknya mulai mendekati Daniel dan mengakui bakat Daniel. Begitu juga guru yang mengecapnya sebagai siswa yang bodoh. Daniel sudah memiliki banyak teman. Banyak dari teman-teman Daniel yang mengikuti jejak Daniel sebagai seorang blogger. Banyak juga dari mereka yang mengakui dengan menjadi seorang blogger bisa membantu siswa lain dalam mengerjakan tugas dengan memasukkan berbagai macam referensi yang ada ke dalam blog mereka. Menurut mereka ini juga salah satu cara membantu mengembangkan sekolah literasi yang sedang disandang SMA Negeri 1 Serui saat ini. SMA Negeri 1 Serui pun semakin terkenal semenjak blog Daniel muncul dan juga ditambah lagi saat teman-teman Daniel banyak yang menjadi seorang blogger dan memiliki blog sendiri. PSB SMA Negeri 1 Serui pun kini sering ramai di kunjungi para blogger yang merupakan siswa SMA Negeri 1 Serui. Sembari mengerjakan tugas, mereka menyempatkan waktu mengisi blog mereka.

Karya

YESA FRITI MAYDEVANTI

XII MIA 2