Selamat Datang di " SMA Negeri 1 Serui = Sekolah Literasi "

  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen didampingi Pengawas SMA/SMK pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kajari Kabupaten Kepulauan Yapen dan Perwakilan Kepolisian Resort Kabupaten Kepulauan Yapen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para undangan orang tua pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen menyerahkan hadiah kepada juara lomba puisi dan cerpen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Bendahara (Salmawaty) dan Penanggung Jawab Program Gerakan Literasi Sekolah (Fitri H K Devi) pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui

Pure Friendship

Yukito adalah seorang murid SMA yang sama seperti murid-murid lain disekolahnya. Namun, Ia sama sekali tidak mempunyai seorangpun teman. Bukan karena tidak ingin bergaul, tapi karena tidak ada yang mau berteman dengannya karena ia selalu di cemooh oleh anak-anak gaul di sekolahnya yang selalu mengangapnya sebagai “pecundang”. Yukito dikatakan “pecundang” karena ia tidak berani untuk melakukan hal-hal yang melawan aturan, seperti merokok, minum minuman keras, balap jalanan, dan melakukan aktivitas yang melanggar aturan lainnya.

Takut akan kehilangan masa depannya, Ia lebih memilih dikucilkan dengan sebutan “pecundang”. Setiap hari, yukito selalu saja di ejek dengan berbagai cemohan seperti “Bodoh”, “sampah”, dan “Idiot”. Sehingga bagi yukito sekolah adalah tempat yang seratus kali lebih buruk di banding penjara. Semua kata-kata dan ejekan dari teman-temannya, terus-menerus membayangi pikiran yukito. Dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru di dalam pikirannya, apakah ia akan terus-menerus di ejek seumur hidupnya? Dan itu berarti ia tidak akan pernah mempunyai teman?. Namun, yukito tidak putus asa akan berbagai hal yang menimpanya. Yukito masih memiliki keyakinan, bahwa Ia telah memilih jalan yang benar bagi masa depannya.

Liburan panjang yang diadakan setiap setahun sekali, semakin mendekat. Yukito ingin sekali menghabiskan liburan panjang itu bersama teman-temannya. Meskipun begitu, Ia tau untuk mewujudkan hal itu sama sekali tidak mudah, Ia mungkin malahan akan diejek atau bahkan lebih buruk dari itu. Dengan rasa resah yang menyelimutinnya, Yukito berusaha untuk memberanikan dirinya untuk bertannya. Yukito kemudian berusaha mengajak teman-temannya satu per satu. Namun, tidak ada yang mau menghabiskan waktu dengannya, karena mereka sudah membuat rencana untuk liburan panjang tersebut. Tak putus asa, ia bertanya kepada hampir semua murid yang seangkatan dengannya. Namun tetap saja, tidak ada seorang pun yang mau menghabiskan waktu dengannya.

Perlahan-lahan ketakutan akan masa depan yang suram semakin membuatnya gelisah. Hingga ia bahkan tidak peduli lagi apa yang terjadi padanya. Karena tidak ingin diejek lagi, Ia pun memutuskan untuk mengunci diri di kamar dan tidak datang lagi kesekolah. Hal ini di sadari oleh miku, teman les bahasa yukito yang merupakan kakak kelas yukito di sekolah. Ia dan teman-teman les yang lain kemudian berencana untuk mengunjungi yukito sepulang sekolah.

Sesuai rencana, sepulang sekolah mereka kemudian mengunjungi rumah yukito. Melihat kondisi yukito yang masih sehat membuat membuat mereka lega. Mereka kemudian mengajak yukito untuk pergi ke taman. Awalnya yukito tidak ingin pergi, namun ada setitik harapan di dalam dirinya yang membuat ia ingin pergi bersama mereka. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengikuti permintaan miku dan teman-temannya.

Mereka pun pergi ke taman menghabiskan waktu bersenang-senang dan melakukan banyak hal menyenagkan lainnya. Yang Kemudian, tanpa yukito sadari semua kesenangan itu lama-kelamaan mulai menimbulkan sebuah senyuman kecil di wajahnya. Senyuman yang telah lama hilang dari wajahnya yang menandakan kebahagiaan di hatinya. Dengan liburan panjang yang akan mulai berlangsung dua hari lagi, yukito memberanikan diri dengan perasaan yang bercampur aduk dan bertanya kepada miku dan teman-temannya dengan lantang “Maukah kalian menghabiskan waktu liburan panjang tahun ini bersamaku!?”

Sejenak mereka semua terdiam, miku kemudian membalas pertanyaan yukito dengan lembut. “Menurutmu? Yukito, kau ini bodoh ya. Kau selalu saja menyimpan semua masalahmu sendiri, jika kau pikir kau bisa menyelesaikan semua masalahmu sendiri, kau salah. Tidak peduli sekuat apa dirimu, kau pasti akan membutuhkan orang lain. Yukito, Selama ini kau menggap kami sebagai apa? Kami tidak tau masalah apa yang telah kau hadapi. Tapi kau tau, kami tidak ingin kau menggangap kami sebagai pajangan atau awan yang muncul dan kemudian menghilang. Kami berada disini saat ini, bukan karena kami mengingikan sesuatu darimu. Kami melakukan semua ini, karena kami bukanlah orang-orang yang ingin melihat orang lain menderita. Jika kau ingin kami menghabiskan liburan panjang tahun ini bersamamu, maka itu artinya kami ingin kau menjadi teman kami selama-lamannya”.

Yukito kemudian menyadari betapa bodoh dirinya karena tidak menyadari bahwa selama ini ada orang-orang yang benar-benar peduli terhadapnya dan selalu memperhatikannya, sekalipun ia selalu menggangap dirinya tidak berguna. Miku dan teman-temannya bahkan tidak peduli jika mereka akan dikucilkan kalau berteman dengan yukito. Yukito bersyukur karena ia tetap memilih jalan yang benar, untuk tidak melakukan hal yang buruk dan melanggar aturan, sekalipun ia akan terus di ejek, di caci maki, dan tidak dipedulikan. Namun pada akhirnya Ia akan dapat menemukan apa yang dimaksud dengan “Teman”.

So, what is pure friendship? Ketika kau ingin membuat orang lain bahagia dan menerimanya “apa adanya”, bukan karena “ada apanya”.

REMEMBER!

Lebih susah “Mencari Satu teman dibanding mencari Seribu Musuh”

Karya : Febryadi Tiar Sulingallo (XII MIA 5)