Selamat Datang di " SMA Negeri 1 Serui = Sekolah Literasi "

  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen didampingi Pengawas SMA/SMK pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kajari Kabupaten Kepulauan Yapen dan Perwakilan Kepolisian Resort Kabupaten Kepulauan Yapen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para undangan orang tua pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen menyerahkan hadiah kepada juara lomba puisi dan cerpen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Bendahara (Salmawaty) dan Penanggung Jawab Program Gerakan Literasi Sekolah (Fitri H K Devi) pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui

SEMANGAT BELAJAR MUNCUL DARI SEKOLAH LITERASI

Pada suatu hari, ada sebuah keluarga sederhana yang hidup di Desa (Kampung) yang berada di Papua. Nama keluarga itu ialah Pak Anthon dan Ibu Wonda. Mereka memiliki seorang anak bernama Diana. Diana adalah seorang murid dari SMA N 1 SERUI. meskipun ia anak dari keluarga yang sederhana tetapi ia rajin belajar dan di kenal oleh semua guru karena kepintarannya.

Suatu pagi ayam berkokok “kukuruyuukk...” Diana pun terbangun dan berkata “puji tuhan sa tidur dengan nyenyak tadi malam. Tapi adoh, hari ini hari senin to mamayo paling tara enak sampe (meskipun Diana anak yang rajin, tetapi ia sangat membenci hari senin. Hihihi..). Lalu ia pun bergegas mempersiapkan diri ke sekolah.

Sesampainya disekolah ia pun masuk ke dalam kelas dan bertemu Arneti (Arneti ialah teman baikknya sekaligus teman sebangkunya). “pagi Arneti” sapa Diana, Arneti menjawab“pagi juga Diana”. “ko pu pr Bahasa Indonesia sudah ka belum?” tanya Diana kepada Arneti. “aii kawan,…” belum sempat Arneti melanjutkan pembicaraannya, Diana pun memotong “aee sa su tau ko pamalas kerja, dari dulu sa teman deng ko sampe sekarang ini ko tra pernah berubah. Bagaimana Indonesia mo maju ini?” mereka pun tertawa bersama. Setelah berbincang-bincang dengan temannya itu, bel sekolahpun berbunyi diikuti dengan pengumuman dari Pak Yanto (Kepala Sekolah di SMA tersebut) tengg..tengg..tengg.. “ya anak-anak berkumpul di lapangan, upacara akan segera di mulai”. Kemudian seluruh siswa dan siswi segera berkumpul “ayo-ayo cepat, nanti kalo tong terlambat pak guru de pukul tonk deng de pu rotan itu” cetus Arneti, mereka pun berjalan menuju lapangan dan mengikuti upacara.

Setelah upacara selesai, Pak Yanto tidak langsung membubarkan siswa-siswi. Melainkan menyuruh mereka untuk tetap di tempat, karena ia ingin menyampaikan pemberitahuan. “anak-anak jangan bubar dulu, Bapak ingin menyampaikan sesuatu” dengan muka cemberut siswa-siswi pun berbisik-bisik “aii Pak Guru mo bilang apa lagi ini”cetus salah seorang murid.

“Anak-anak, kemarin Pak Guru menerima E-mail dari Jakarta. E-mail itu berisi tentang sekolah kita di tetapkan sebagai sekolah Literasi” mendengar pernyataan Pak Guru, siswa-siswi pun menatap satu sama lain. Mereka bingung maksud dari sekolah literasi. “kalian tahu apa itu sekolah Literasi???” tanya Pak guru, Diana menjawab dengan sopan “menurut saya, sekolah literasi adalah sekolah yang menggunakan media buku, perpustakaan dan teknologi dalam setiap proses pembelajaraannya Pak Guru”. “ya jawaban yang teman kalian berikan itu sudah benar. Jadi sekolah kita di tetapkan sebagai sekolah Literasi karena siswa-siswi di sekolah ini dianggap mampu mencari informasi dari teknologi dan mempunyai wawasan yang luas. Itu saja yang Bapak ingin sampaikan, Bapak harap kalian bisa memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya” siswa-siswi pun bertepuk tangan dengan meriah.

Sesampainya di kelas, Arneti lalu menghampiri Diana. Arneti “Diana, mulai sekarang sa akan rajin belajar. Karena tong pu sekolah ini su di tetapkan sebagai sekolah literasi, sa tidak mau bikin malu sekolah ini. Sa akan belajar cara menggunakan teknologi lagi Diana”. “nah ko begitu kah dari dulu” jawab Diana, “tapi ko bantu sa belajar e? hehehe” balas Arneti. “iyo ko tenang saja. Dan ingat ko harus berpikiran (masa orang lain bisa, sa tidak bisa. Sama-sama makan nasi baru)” ujar Diana, “ale kawan ko memang paling baik sudah, makasih banyak lagi e kawan” tukas Arneti sambil menjabat tangan Diana.

Diana lalu berpikir, dan hatinya pun berkata “kenapa tidak dari dulu sekolah ini di tetapkan sebagai sekolah Literasi e? kalo dari dulu su pasti banyak sekali yang semangat belajarnya meningkat. Sa juga harus tambah rajin belajar ini, sa tara akan malas-malas lagi biarpun itu hari senin hehehe”.

Karya : Megalin Sabrina (XII MIA 3)