Selamat Datang di " SMA Negeri 1 Serui = Sekolah Literasi "

  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen didampingi Pengawas SMA/SMK pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kajari Kabupaten Kepulauan Yapen dan Perwakilan Kepolisian Resort Kabupaten Kepulauan Yapen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para undangan orang tua pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen menyerahkan hadiah kepada juara lomba puisi dan cerpen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Bendahara (Salmawaty) dan Penanggung Jawab Program Gerakan Literasi Sekolah (Fitri H K Devi) pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui

Semasih Berseragam Putih Abu-abu

Tak terasa tiga tahun akan begitu cepat berlalu, masa dimana aku duduk dibangku sekolahku yang tercinta SMA Negeri 1 Serui dengan mengenakan seragam putih abu-abu.Telah kulewati masa suka-duka dan canda-tawa yang memberikan kesan yang tak terlupakan bersama teman sekelas maupun yang berbeda kelas denganku.

Hal ini dimulai sejak pertamakali aku mendaftar untuk masuk ke sekolah ini. Namun, untuk masuk dan mendapatkan kursi tidak mudah. Pada saat itu, aku dan teman-teman yang lain harus mendaftar terlebih dahulu baik secara tertulis (manual) maupun online dimana kami harus mengisi data identitas diri pada formulir pendaftaran dan melampirkan lembaran foto kopi ijazah, SKHU yang telah dilegalisir, dan surat kelakuan baik dari SMP. Langkah selanjutnya yaitu mengikuti tes tertulis berupa soal pilihan ganda yang diujikan meliputi bidang studi matematika, fisika, kimia, biologi, bahasa indonesia, dan bahasa inggris. Sesudah itu pihak panitia penerimaan siswa baru menghimbau kepada para siswa-siswi apabila nilai mereka tidak memenuhi standar yang telah ditentukan, maka mohon maaf tidak bisa diterima masuk dan secrara otomatis harus mencari sekolah yang lain karena kapasitas kelas untuk menampung para siswa terbatas yaitu hanya 32 siwa dalam satu kelas sementara jumlah siswa yang mendaftar begitu banyak.

Tiba waktunya bagi panitia dalam mengumumkan siswa yang diterima dan yang tidak. Rasa senang yang amat besar menyelimuti para siswa yang namanya dinyatakan lolos. Sementara tangis penyesalan yang mendalam harus dirasakan bagi siswa yang dinyatakan tidak lolos sehingga mereka tidak diterima dan terpaksa mendaftar di sekolah lain. Aku yang pada saat itu merasa sangat bahagia atas usaha dan kerja keras yang akhirnya terbayar karena namaku dinyatakan lolos dan diterima sebagai siswa di sekolah tersebut. Tetapi tidak berhenti disitu, aku dan teman-teman lain yang diterima wajib mengikuti MOS yang dilaksanakan oleh OSIS pada saat itu. Hal inilah yang membuatku tertantang untuk bersifat sabar, dan berusaha untuk tidak terpancing emosi dengan perintah dan perlakuan yang mungkin berlebihan serta memalukan oleh pengurus OSIS itu. Namun apalah, itu memang harus kualami karena sudah menjadi kegiatan rutin yang wajib dilaksanakan dari tahun ke tahun pada setiap penerimaan siswa baru. Aku dan teman lainnya juga diberi bimbingan berupa materi ajar dan aturan mengenai tata tertib sekolah oleh bapak/ibu guru yang pada saat itu belum kukenal akrab.

Setelah mengikuti serangkaian proses diatas yang mungkin terasa cukup merepotkan akhirnya tibalah pembagian kelas. Aku masuk di kelas X MIA 6 yang wali kelasnya pada saat itu bernama pak Rizal yang adalah guru fisika. Disaat pertama kali masuk kedalam kelas aku merasa malu dan tak begitu banyak bersuara karena melihat ada banyak teman baru yang belum ku kenal sebelumnya tetapi ada beberapa yang sudahku kenal yaitu mereka yang bersekolah bersama denganku sewaktu SMP. Seiring dengan berjalanya waktu akhirnya kamipun saling mengenal satu sama lain. Begitupula dengan bapak/ibu guru baru, mereka menyuruh kami untuk memperkenalkan diri dan alamat rumah satu persatu di depan kelas. Beberapa temanku terlihat sulit melakukannya karena merasa malu dan gugup sehingga tidak banyak dari mereka salah kata dan membuat aku dan teman-teman yang lainnya menjadi tertawa.

Setelah naik di kelas XI, jumlah kami dalam kelas berkurang dimana temanku yang bernama Vaschalis dan Widiya harus pindah karena alasan tertentu. Tetapi kami juga kedatangan siswa baru di kelas yaitu bernama Niken dan Vica sehingga mereka mengisi bangku yang telah ditinggalkan oleh kedua temanku yang pindah itu. Aku juga mulai mulai jatuh cinta dengan seorang siswi yang cantik bernama Desi. Ia adalah murid baru pindahan dari Timika. Tak beberapa hari kemudian akhirnya kami jadian. Aku dan dia telah berkomitmen untuk berpacaran dari segi sisi positifnya saja, yaitu mengatur jarak dan waktu tertentu dalam bertemu serta selalu saling tolong menolong.

Setelah naik ke kelas XII aku lebih fokus dalam menyiapkan diri dengan sebaik mungkin khususnya dalam menghadapi Ujian Sekolah dan Ujian Nasional. Sekolahku telah menggunakan Kurikulum 2013 (K 13) dalam setiap proses belajar mengajar. Baru-baru saja sekolah kami mendapat gelar menjadi sekolah literasi diantara 112 sekolah tingkat SMA di seluruh Indonesia. Sekolah literasi adalah sekolah dimana para siswa-siswinya secara keseluruhan mampu dengan cepat mencari informasi khususnya dalam menggunakan teknologi berbasis online yang diakses baik melaui android maupun komputer. Hal tersebut tentunya menjadi kebanggaan dan membawa nama baik sekolah tentunya, khususnya di Kabupaten Kepulauan Yapen ini.

Pada tahun ajaran 2016-2017 ini kembali lagi sekolahku menjadi sekolah yang melaksanakan ujian nasional berbasis komputer untuk kedua kalinya. Pihak sekolah pun melalui guru bidang studi masing-masing mulai mengajari aku dan teman-teman menyangkut materi yang sudah pasti muncul pada soal ujian nasional yang nanti akan diujikan. Kami juga nantinya diberikan beberapa contoh latihan-latihan soal dan tryout baik soalnya dalam bentuk tertulis/dicetak maupun berbasis komputer dengan menggunkan simulasi.

Diselah-selah waktu kesibukan di sekolah, terkadang aku dan teman-teman menyempatkan diri untuk berbincang-bincang. Biasanya topik yang kami bahas menyangkut universitas mana yang akan diambil setelah tamat dari SMA. Aku sendiripun masih bingung karena ada banyak universitas bagus di negara ini. tapi yang jelasnya akan kuusahakan untuk masuk di universitas di luar Provinsi Papua. Karena kupikir di luar sana lebih banyak saingan dan proses perkuliahan di sana lebih serius dan aktif dibandingkan di papua yang sering tertunda dengan sebab-sebab tertentu. Misalnya saja di Universiitas Cendrawasih di Jayapura yang sekarang ini dosennya mungkin jarang masuk atau mahasiswa lainnya yang sering melakukan demo. Jelas situasi ini sangat mengganggu jalannya perkuliahan dan boleh dikatakan sangat merugikan.

Hal lain yang kupikirkan yaitu kenangan yang telah kuhabiskan selama kurang lebih 3 tahun bersama teman-teman SMA yang tak terlupakan juga bersama bapak/ibu guru yang telah memberiku ilmu pengetahuan yang tak ternilai harganya. Disaat aku lulus nanti dan meninggkalkan sekolah tercinta ini, akankah kita bisa bertemu ketika aku menjadi orang yang sukses di masa yang akan datang ?. Kuharap boleh terjadi.

Nama : Risman Bismar Toding

Kelas : XII MIA 6