Selamat Datang di " SMA Negeri 1 Serui = Sekolah Literasi "

  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen didampingi Pengawas SMA/SMK pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kajari Kabupaten Kepulauan Yapen dan Perwakilan Kepolisian Resort Kabupaten Kepulauan Yapen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para Siswa - Siswa SMA Negeri 1 Serui berpose dengan PIN GLS pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para undangan orang tua pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Para dewan guru pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen menyerahkan hadiah kepada juara lomba puisi dan cerpen pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui
  • Bendahara (Salmawaty) dan Penanggung Jawab Program Gerakan Literasi Sekolah (Fitri H K Devi) pada acara Lounching GLS SMA Negeri 1 Serui

TEKNOLOGI DAN SEKOLAH LITERASI

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06:30 WIT, tapi Juna masih tertidur pulas di tempat tidurnnya sambil memeluk bantal guling kesayangannya.

“JUNAAA !! Kamu mau tidur sampe kapaan !! Cepat bangun !! Nanti kamu terlambat kesekolah !!” teriak ibunya dari arah dapur. Teriakkan tersebut sangat keras, bahkan lebih keras dari suara mesin pesawat Boeing 737-nya Malaysia Airline yang hilang di sekitar Selat Malaka. Juna sampai terjatuh dari tempat tidur karena kaget.

“Junaa!! Kamu sudah bangun belum !?”teriak ibunya lagi. “Sudah Bu. Sudah dari tadi”, jawab Juna pendek. Ia pun bergegas ke kamar mandi. Setelah mandi, ia langsung memakai seragamnya. Tidak lupa, ia memoleskan sedikit Gatsby di rambutnya agar terlihat lebih Maskulin, katanya.

“Juna, kamu tidak sarapan ?”, tanya ibunya yang dari tadi sibuk dengan tas belanjaan kosong. Sepertinya ia hendak pergi ke pasar “Tidak bu, Juna sarapan disekolah saja. Lebih enak.” Jawab Juna santai sambil mengikat tali sepatunya.

“Apa !?”teriak ibunya melotot.

“Haha.. Bercanda bu, Juna tidak sarapan karena takut terlambat ke sekolah. Sekarang saja sudah hampir jam 7. Cuma di kasih toleransi sampe 07:15”.

“Makanya kalau tidur jangan terlalu malam”ibunya memberi nasehat. “Bukan begitu, tadi malam Juna kerja PR matematika yang susahnya luar biasa. Sampai tengah malam. Untung bisa selesai”.

“Ya sudah, kamu ke sekolah sudah sana cepat. Nanti terlambat”. “Iya bu, assalamualaikum”. “Waalaikumsalam”. Juna pun langsung bergegas ke jalan raya dan memberhentikan satu ojek untuk ia tumpangi pergi ke sekolah.

“Pak Amiir, tunggu!”teriak Juna sambil berlari. “Juna ? Tumben kamu terlambat. Biasanya kamu yang paling cepat datang”.

“Hosh.. hosh.. tadi telat bangun..... karena kerja PR sampai tengah malam..... soal-nya susah....”jawab Juna ngos-ngosan.

“Hahaha... Ya sudah kamu cepat masuk kelas sana, bapak mau tutup gerbangnya”. Kata pak Amir, sang penjaga sekolah. “Makasih pak Amir” Juna langsung berlari menuju kelasnya. Setelah sampai di kelasnya, Juna langsung duduk di bangkunya.

Juna bersekolah SMA Negeri yang cukup terkenal di kotanya. Dan Juna sendiri termasuk kedalam jajaran murid pandai di sekolahnya. Tahun ini ia duduk di kelas XI MIA 5.

“Jun, kau kenapa ? Mukamu kenapa kusut kayak lipatan farises begitu ?” tanya Abdur, teman sebangku Joni yang terkenal paling cerewet, walaupun dia laki-laki.

“Sembarangan kamu !” Juna sewot. “Haha.. bercanda bro. Eh, kamu tau tidak, katanya sekolah kita mau dijadikan sekolah literasi” Kata Abdur memulai percakapan.

“Literasi ? Apaan tuh ?”Juna mengernyitkan dahi.

“Literasi itu... kayak semacam... uumm...” Abdur kebingungan,

“Sudah, tidak usah dijawab. Paling kamu juga tidak tau apa itu literasi” potong Juna

“Hehe.. sorry bro. Saya juga tau info itu hasil dari nguping di kantor waktu ambil absen kelas tadi” jawab Abdur. “Dasar! Tukang nguping. Ya sudah, nanti kita tanya sama ibu Dewi saja kalau dia masuk kelas” kata Juna menyarankan. “Oke bro.” Jawab Abdur pendek.

Tak lama berselang, seorang perempuan berjilbab melangkah masuk ke kelas Juna. Ia adalah bu Dewi, salah satu guru bahasa Indonesia di sekolah ini. Bu Dewi baru berumur 24 tahun, tapi ia sudah menduduki salah satu jabatan penting di sekolah ini, yaitu Wakasek Kesiswaan. Bu Dewi juga bisa dibilang salah satu guru favorit karena selain baik hati ia juga berparas cantik.

“Selamat pagi anak-anak !” sapa bu Dewi.

“Selamat pagi Bu,” jawab murid-murid serentak.

“Sekarang, untuk memulai pelajaran Bahasa Indonesia di pagi ini, coba kalian semua lihat buku paket kalian halaman 35 mengenai kalimat aktif dan kalimat pasif” kata bu Dewi memulai pelajaran.

Setelah sekitar 2 jam berlalu, bel lonceng pun berbunyi tanda istirahat. TENG.. TENG.. TENG.. Anak-anak murid pun mulai berhamburan keluar kelas. Bu Dewi pun mulai mengemasi barang-barangnya. Tapi, Juna dan Abdur masih di dalam kelas mencari kesempatan untuk berbicara dengan bu Dewi. Setelah dirasa ada kesempatan, mereka pun menghampiri bu Dewi.

“Permisi Bu Dewi,” Juna mulai berbicara

“Ya Juna, ada apa ?” jawab bu Dewi. Juna pun melanjutkan “Saya mau bertanya, apa benar sekolah kita mau dijadikan sekolah literasi ?”

“Wah, iya betul. Kamu tau dari mana ?” jawab bu Dewi kaget. “Dari Abdur bu, dia tidak sengaja dengar dari percakapan guru-guru di kantor” jawab Juna.

“Hehe.. iya bu. Saya tadi tidak sengaja dengar waktu ambil absen kelas di kantor. Kalau boleh tahu, sekolah literasi itu apa ya ?” tanya Abdur.

“Ooh, Sekolah Literasi itu adalah program pemerintah untuk meningkatkan minat baca dan tulis dari anak-anak sekolah. Dan sekolah kita terpilih untuk menjadi salah satu dari 113 sekolah literasi yang ada di seluruh Indonesia.” Jelas bu Dewi.

“Meningkatkan minat baca dan tulis? Maksudnya apa bu?” tanya Juna bingung.

“Maksudnya adalah sekolah kita diharapkan dapat meningkatkan minat membaca dan menulis dari siswa-siswi yang ada di sekolah ini. Dan salah satu programnya adalah membiasakan membaca bacaan selama 15 menit sebelum memulai pelajaran. Berlaku untuk semua mata pelajaran” Jelas bu Dewi lagi.

“Membaca bacaan? Bacaan apa?” sekarang giliran Abdur yang bertanya.

“Bacaan apa saja. Medianya bisa dari buku, koran, dan lain-lain” jawab bu Dewi.

“Hmmm... Lalu, apakah ada peran dari teknologi dalam program sekolah literasi ini?” Juna mulai penasaran “Tentu saja ada. Teknologi sangat berperan disini, terutama teknologi internet” jawab bu Dewi yakin.

“Contohnya adalah saat jam istirahat kalian dapat menggunakan komputer-komputer yang ada di ruang komputer untuk membaca materi pelajaran, berita-berita, ataupun literatur-literatur lainnya yang ada di internet. Selain itu, melalui media sosial kalian juga dapat saling sharing hasil karya tulis kalian seperti puisi, cerpen, dan lain-lain. Kalian juga dapat menulis tulisan kalian di Blog jika kalian punya blog sendiri.” sambungnya

“Oh.. jadi begitu...” Abdur mulai menganggukkan kepala.

“Iya, jadi kamu jangan menggunakan internet hanya untuk hiburan seja. Kamu juga dapat menggunaka internet untuk mengasah kemapuan menulis kamu. Siapa tau tulisan kamu banyak yang suka. Kamu bisa terkenal!” jelas bu Dewi.

Juna dan Abdur pun mengangguk-anggukkan kepala mereka tanda mereka mengerti penjelasan bu Dewi. “Ya sudah. Ibu mau ke kantor dulu. Tidak ada yang mau ditanyakan lagi kan ?” tanya bu Dewi.

“Tidak ada bu, makasih atas penjelasannya” kata Juna.

“Ibu mau ke kantor ? Apa perlu saya antar ?” tanya Abdur genit sambil memasang muka playboy-nya. “Haha.. tidak perlu. Ibu bisa jalan sendiri. Ibu jalan dulu ya.” Bu Dewi pun melangkah keluar dari kelas.

“Huuu.. sok-sok’an mau ngatar. Dasar playboy cap Tikus !” ejek Juna

Abdur pun membalas perkataan Juna “Masih mending saya playboy cap tikus, daripada kamu jones (Jomblo Ngenes)”

“Woi, saya bukan Jomblo, tapi Single” tangkis Juna.

“Sama saja ! Sudah, daripada kita berdebat tidak jelas disini, bagaimana kalau kita ke ruang komputer saja” ajak Abdur.

“Tumben mau ke ruang komputer, biasanya langsung ke kantin”

“Setelah mendengar penjelasan ibu Dewi tadi, sebagai siswa sekolah ini, saya jadi ingin mendukung program Sekolah Literasi. Sekalian mau latihan, kalau nanti sekolah kita sudah resmi menjadi sekolah Literasi. Agar nanti tidak canggung kedepannya” kata Abdur penuh penghayatan.

“Wuuiih.. bahasanya.. Kemasukan setan apa kau sampai kayak begitu cara bicaramu” kata Juna sambil tertawa.

“Ini bukan karena kemasukan setan, tapi ini adalah panggilan jiwa” kata Abdur sambil memegang dadanya.

“Ya sudah, ayo kita kesana. Saya mau baca-baca cerpen di internet. Siapa tahu dapat inspirasi buat cerpen sendiri terus jadi terkenal” kata Juna

“Ayo bro !!” sahut Abdur sambil mengepalkan tanganya penuh semangat.

Mereka berdua pun berjalan menuju ruang komputer yang jaraknya tidak terlalu jauh. Setiap hari setelah itu pun mereka masih sering datang ke ruang komputer pada saat jam istirahat untuk membaca.

-selesai-

Karya : Rachmat Hadi Agusti (xii mia 5)